IPNU dalam Dinamika Organisasi Kepemudaan di Indonesia


Latar Belakang Pendirian IPNU

Setahun sebelum Pesta demokrasi atau Pemilu yang pertama kali di Indonesia, tepatnya pada tanggal 24 Februari 1954 M. atau 20 Jumadil Akhir 1373 H. lahirlah Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama yang dilatar belakangi oleh adanya kebutuhan wadah pengkaderan bagi generasi muda NU yang bersumber dari kalangan pesantren dan pendidikan umum, yang diharapkan dapat berkiprah di berbagai bidang, baik politik, birokrasi, maupun bidang-bidang profesi lainnya. Pada awalnya embrio organisasi ini adalah berbagai organisasi atau asosiasi pelajar dan santri NU yang masih bersifat lokal dan parsial.

Sebagai badan otonom NU, keberadaan IPNU tidak bisa dilepaskan dari grand design NU, karena itu IPNU dituntut untuk senantiasa mengembangkan peran dan fungsinyan untuk fungsi peran dan pelaksana kebijakan dan program NU yang berkaitan dengan masyarakat santri, pelajar, dan mahasiswa. Sebagai konsekuensinya IPNU sebagai garda depan kaderisasi dalam tubuh NU sekaligus mengemban tugas untuk menyosialisasikan nilai-nilai dan ajaran-ajaran NU dalam kehidupan anggotanya.

Konsep Islam tentang Generasi Muda

Para ahli memberi gambaran yang berbeda-beda mengenai batasan pemuda. Untuk itu di bawah ini diberikan gambaran batasan usia pemuda dilihat dari kepentingan agama dan sosial sebagai berikut:

1. Dilihat dari kepentingan kehidupan sosial, dapat dibedakan menjadi 3 kategori:

a. Siswa usia antara 6-18 tahun

b. Mahasiswa usia antara 18-25 tahun

c. Pemuda di luar sekolah usia antara 15-30 tahun

2. Menurut ilmu jiwa agama, batasan pemuda antara usia 13-24 tahun

Dengan demikian kita dapat mengetahui posisi pemuda sehingga dalam tindakan dan berfikir akan dapat menganalisa dengan tepat sehingga nantinya dapat mencarikan jalan keluarnya.

Untuk lebih jelasnya di bawah ini kita beri gambaran secara singkat tentang ciri-ciri kehidupan pemuda sebagai berikut:

  1. Kemurnian idealisme
  2. Keberanian dan keterbukaannya dalam menyerap nilai-nilai dan gagasan-gagasan baru.
  3. Semangat pengabdian
  4. Spontanitas dan dinamikanya
  5. Inovasi dan kreativitasnya
  6. Keinginan-keinginan untuk segera mewujudkan gagasan-gagasan baru
  7. Keteguhan janjinya dan keinginan untuk menampilkan sikap dan kepribadian yang mandiri
  8. Masih langkanya pengalaman-pengalaman yang didapat merelevansikan pendapat, sikap dan tindakannya dengan kenyataan-kenyataan yang ada.
About these ads

Posted on 2 Maret 2008, in Organisasi. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: