Aswaja dan Arah Baru Perjuangan NU


Aswaja, sampai sekarang ini ternyata masih banyak dipahami sebagai sebuah paham (mazhab) keagamaan. Hanya kalangan tertentu yang menjadikan manhaj al-fikr (metode berfikir). Tanpa dibarengi dengan metodologi yang cukup, maka sulit mengejawantahkan Aswaja sebagai sebuah metode/jalan untuk berpikir. Dengan demikian, saat ini pun, Aswaja tetap dimaknai pada ruang yang sama sebagaimana tahun-tahun pertama organisasi induknya (NU) ini didirikan. Sampai saat ini Aswaja masih dipahami setengah hati oleh kader-kader NU. Dalam hal ini, dapat dibedakan tipologi kader NU menjadi tiga variable.

  1. Pertama, adalah kader kultural. Kader jenis ini menempati angka tertinggi berdasarkan data kuantitatif. Mereka lahir di tengah masyarakat agraris dan pesantren yang tersebar di seluruh penjuru Nusantara. Kelompok ini hanya memahami NU dan segala perkembangan pemikiran yang ada di dalamnya sebatas pada wilayah gerakan semata. Disinilah Aswaja, sering kali hanya dipahami sebagai sebuah dogma dan paham bermazhab, tanpa berani mempertanyakannya kembali. Namun, justru merekalah yang istiqomah (konsisten) melanggengkan tradisi-tradisi NU di tengah pergulatan masyarakat.
  2. Kedua, adalah jenis kader ideologi. Kelompok dalam tipologi ini memang secara kuantitatif lebih sedikit dibanding dengan yang pertama. Meski demikian, kader dalam kelompok ini memiliki peran vital bagi keberlangsungan perkembangan pemikiran NU. Karena dalam benak merekalah intelektualisme NU terus terpancar dan menemukan relevansinya di tengah masyarakat. Kader ideologis ini menjadi penting keberadaannya, karena merekalah creative minority yang akan menggerakkan NU pada masa mendatang.
  3. Ketiga, adalah jenis kader NU yang politis. Mereka dapat berasal dari kalangan kultur maupun ideologis. Kelompok ini dapat dikatakan sebagai politik NU di pemerintahan. Kader ini menjadi seimbang di antara kader NU kultural dan kader NU ideologis. Sehingga akan terpola sebuah dialektika kader yang akan tetap memegang persaudaraan demi tercapainya cita-cita yang digariskan oleh para pendiri NU. Namun, sampai saat ini yang dilihat kadangkala justru sebaliknya, ketiga kelompok tersebut seakan berjalan sendiri-sendiri dan kemudian yang dikorbankan adalah warga NU secara umum.

Dalam ranah praksis, sesungguhnya Aswaja perlu terus untuk ditafsirkan sesuai dengan konteks zaman. Aswaja akan menjadi sesuatu yang usang dan tidak kontekstual dengan semangat zaman saat ini bila hanya terus dikeramatkan dan tidak dikaji kembali. Sebaliknya, Aswaja mampu untuk dijadikan pemompa semangat kader NU, dalam melangkah dan berjuang, termasuk pula perjuangannya dalam bidang pendidikan.

Posted on 2 Maret 2008, in NU-Aswaja. Bookmark the permalink. 4 Komentar.

  1. betul Bos, sepakat saya

  2. broden koncomu dkv

    sip. saya harap tulisan anda akan membawa kemaslahatan umat dan tidak ada lagi yang membesar2kan perbedaan/ khilafiyah. Allahu akbar

  3. Trims mas Brooden makanya saya tulis artikel ini, agar orang sedikit lebih mengetahui aswaja sebagai manhaj al-fikr dan bukan semata-mata mazhab semata. Khilafiyah pada masalah furu’iyah (cabang) akan memperkaya wawasan kita. Tapi untuk masalah ushul (pokok) maka kita harus meyakini dan memahami aqidah ahlussunnah wal jama’ah

  4. itulah kelemahan generasi NU aswaja,mereka hanya tau namanya NU tanpa tau ideologi,karena mereka lebih hanya cenderung kpd amalan2 ibadah spt tahlil dll, ga pernah mereka berfikir apa ideologi,dan bahkan ada yg menganggap politik itu kotor shg mereka tak ingin rejun ke dalamnya..ayo kita benahi bersama demi meneruskan perjuangan NU dan Ulama NU aswaja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: